Rabu, 25 Maret 2015

Kebun Raya Bogor (Part 1)

1 Maret 2015
Awal Maret kita mulai perjalanan dengan mengunjungi Kebun Raya Bogor. Kebun Raya Bogor menjadi destinasi wisata yang saya pilih karena pertama: jaraknya tak begitu jauh dari Jakarta. Dan kedua, di Bogor saya punya teman yang baik hati yang ikhlas meluangkan waktunya menjadi tour guide selama saya di Bogor. Siapa tau, habis jalan-jalan bisa mampir ke rumahnya untuk sekalian numpang makan siang gratis silaturahmi

Awalnya saya ke Bogor bersama istri saya (bagi kalian yang mau pdkt, saya harus menjelaskan semuanya di awal bahwa saya sudah menikah) ditemani dengan beberapa teman yang kebetulan tinggal dan bekerja di daerah Jabodetabek.

Personil awal adalah Aka dan Nove plus bayi kecil mereka Ahsan (mereka ga jadi ikut karena Ahsan lebih tertarik berburu Nyambik. Reptil sejenis buaya tetapi berukuran lebih kecil. Tidak-tidak, saya bercanda. Mereka tidak jadi ikut karena Ahsan agak kurang enak badan). Abdul dan Indah (kebetulan dia sudah hamil muda. Yang hamil Indah, bukan Abdul. Semoga bayinya sehat ya). Bayu si tukang foto yang sudah tidak diragukan lagi kemampuannya. Ivan yang aslinya juga jago foto, tapi kali ini tugasnya menjadi driver. Eko Pak dhe dan istri (juga ga jadi ikut karena mendadak istri kurang enak badan). Akbar dan Norman (mereka bukan pasangan. Hanya saja tempat mereka bekerja agak dekat. Sehingga berangkat bersama). Dan tentunya Okky, teman saya yang akan jadi tour guide selama kita berada di Bogor.
07.00
Abdul dan istri sudah naik KRL dari Palmerah menuju Bogor. Seharusnya saya dan yang lain berkumpul di stasiun Duren Kalibata setengah jam kemudian. Dapat konfirmasi dari Aka dan Eko ga jadi ikut. Alasannya sudah saya sebutkan di atas. Ivan, Bayu, Akbar dan Norman masih belum bangun. Mereka belum bisa move on dari tempat tidur.
Tempat kos saya dengan meeting point sangat dekat. Kepleset aja nyampe, karena saking dekatnya. Sehingga saya berangkat ke meeting point menunggu konfirmasi dari Ivan dkk. Daripada saya jamuran nunggu di stasiun, lebih baik saya mennggu di kos. Dan di sela-sela menunggu saya sambi dengan mandi, sarapan dan menunggu istri dandan.

Kegiatan tunggu-menunggu ini menghabiskan waktu yang cukup lama. dan di sela-sela itu, Abdul selalu menanyakan dimana posisi saya. Maklum, Abdul sudah nyampe Bogor pagi banget. Jawaban saya sangat gampang: menunggu Ivan dkk. Hahahaha

10.00
Saya sudah berada di stasiun Duren Kalibata. Duduk manis dengan istri di bangku stasiun yang agak keras. Sebagai informasi, kalau kalian ingin parkir sepeda motor di stasiun ini, kalian wajib hukumnya memiliki e-ticket. Kalau kalian belum punya, kalian bisa membuat langsung di loket stasiun. 

Kira-kira setelah habis permen se-emutan (gimana ya njelasinnya. Saya ngemut permen satu dan permennya habis. Begitulah kira-kira), Ivan dan rombongan datang. Dengan muka tanpa dosa mereka cengangas-cengenges. Untung saya orangnya sabar, jadi saya tidak marah.

Ada beberapa versi kenapa mereka datang terlambat. Versi yang pertama, Ivan rempong dandan sebelum berangkat. Versi yang kedua, Norman galau mau ikut apa enggak. Soalnya dia ga bawa baju ganti. Sebetulnya masih ada beberapa versi lagi. Tapi sengaja tidak ditulis. Maaf.

Tak berapa lama kemudian, KRL tujuan Bogor tiba. Dan kami pun masuk ke gerbong yang cukup ramai. Kami semua berdiri, karena kursi sudah dipenuhi oleh penumpang yang lain. Bogor, waiting for us.


Suasana di dalam KRL. Foto take by: Bayu CW
 
But, Let me take a selfie first.
Foto take by: Bayu CW
 
Ivan sedang ditelpon oleh Abdul. IYKWIM.
Foto take by: Bayu CW

11.00
Sekitar pukul 11.00 an, akhirnya kami tiba di Bogor. Abdul dan Indah (istrinya) sudah bertemu dengan Okky. Dan mereka menunggu kami di depan bank BJB. Kalau dari stasiun, keluar terus belok kiri. Terus jalan kaki kurang lebih seratus meter. Tapi waktu itu saya tidak membawa alat ukur, jadi saya kurang yakin tentang jarak dari stasiun ke bank BJB. Pokoknya kalau jalan ga capek banget kok. Sebetulnya bisa sih pake HP menggunakan aplikasi yang ada. Tapi waktu itu juga ga kepikiran. Jadi maaf kalau jaraknya kurang tepat.
Seorang wanita dengan aksen sunda yang kental memanggil-manggil nama kami. Ya dialah Okky. Tour guide yang akan menemani kita seharian di Bogor. Di sebelahnya sudah ada Abdul dan Indah yang sudah mulai berjamur menunggu kedatangan kami. Maaf ya gaes. Ya meskipun kami terlambat, at least kita datang. Ada pepatah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Ngeles mode: On.
Oke, mari kita keliling Bogor. Oh iya, terima kasih papanya Okky yang sudah bersedia mengantar Okky dan meminjamkan mobilnya.
Ivan mengemudikan si Kijang dengan lihai. Sudah mirip sopir angkutan umum. Setelah berhaha-hihi, akhirnya kita sampai di tujuan pertama kita: Kebun Raya Bogor. Dan dengan PD nya, kami memarkirkan mobil di kawasan IPB. Dari IPB kita berjalan kaki menuju pintu masuk Kebun Raya Bogor.
Setelah kita membayar Rp 14.000,00 kepada bapak-bapak yang ada di loket, kita diberi sebuah tiket masuk. Dan di depan pintu masuk, seorang bapak-bapak berbadan tegap dan berkulit gelap memeriksa tiket kami. Setelah kami berikan tiketnya, dia menyobek tiketnya, lalu memberikan nya lagi ke kami. Waktu itu saya sudah naik pitam. Bagaimana tidak? Kita beli tiket, trus ujung-ujungnya disobek. Untung waktu itu istri saya menenangkan saya dan menyuruh saya memperbanyak istighfar. Akhirnya saya tidak jadi marah. Karena saya baru ingat, saya orangnya sabar. *fiktif....
Bersambung...

Kamis, 19 Maret 2015

Saat Beli Regulator Dikasihnya Kalkulator. Di Situ Kadang Saya Merasa Sedih

Selamat pagi, siang, sore dan malam. Tergantung kapan para pembaca mengunjungi blog saya ini. Sudah sebulan saya tidak posting artikel baru. Karena saya tidak mau asal memposting artikel (Ngeles, aslinya cuma blogger kambuhan. Mau nulis kalau lagi mood).

Semoga dengan artikel ini, saya bisa lebih istiqamah lagi dalam menulis artikel. Biar tidak jadi blogger kambuhan. Pada postingan kali ini saya ingin membagi pengalaman saya saat membeli regulator. 

Saya lupa kapan dan detailnya seperti apa. Tapi saya akan mencoba untuk menceritakan kembali. Kurang lebihnya seperti ini.
“Ada regulator Mbak?” tanya saya.
“Ada Mas. Yang merk apa?” tanya Mbak penjaga toko.
“Quantum ada ga mbak?”
“Ga ada mas. Adanya Karce.”

Dalam hati saya, ini kok mirip merk kalkulator ya.
“Coba lihat Mbak.”
Mbak nya mencari sesuatu di rak kaca. Lalu dia mengeluarkan sebuah barang yang saya yakin itu adalah kalkulator. Bukan regulator. Disitu kadang saya merasa sedih.

“Regulator Mbak, bukan kalkulator,” kata saya. Waktu itu saya sudah mau tertawa. Tapi sepertinya tidak etis. Menertawakan seseoranga karena ketidaktahuannya. Jadi saya bersikap lebih bijaksana dengan menjelaskan apa itu regulator.

“Regulator itu yang kayak gimana ya Mas.”
“Regulator itu Mbak, sebuah alat yang bisa kita gunakan untuk menghitung,” kata saya dalam hati. Tapi tidak jadi saya ucapkan.
“Regulator itu yang seperti itu Mbak,” sambil menunjuk regulator yang menempel di dinding toko. “Tapi tidak usah pakai selang, regulatornya saja.”
“Oooooh, kepala buat tabung gas?”
“Iya Mbak,” jawab saya kalem.
“Bilang dong mas. Kepalanya tabung gas. Saya ngerti. Pakai diganti regulator segala. Yang ini harganya 65ribu,” jawab Mbak nya sambil mengulurkan regulator merk wingas.

Saat Beli Regulator Dikasihnya Kalkulator. Di Situ Kadang Saya Merasa Sedih...

Senin, 09 Februari 2015

Mengobati Rindu Dengan Soto Ayam Khas Surabaya


"Bagi saya, soto ayam tak hanya sekedar makanan. Lebih dari itu, soto ayam adalah obat penawar rindu akan kampung halaman."

Saat musim hujan begini, paling enak makan makanan yang hangat dan pedas. Kebetulan ada warung soto ayam khas Surabaya yang letaknya tak jauh dari tempat kos saya. Saya dan istri sepakat untuk menyatroni (kok kesannya kayak perampok ya) warung soto tersebut. Meskipun gerimis mengiringi perjalanan kami, tak menyurutkan niat kami untuk makan di tempat itu (aslinya sih karena malam itu ga masak. Dan kami berdua sudah sangat kelaparan. Hahaha). 


Dekat perempatan Jalan Duren Tiga Raya

Tepat di depan Jalan Raya

Setelah sampai di tempat tujuan, saya memarkir motor saya. Warung soto khas Surabaya ini  terletak di jalan Duren Tiga Raya, Jakata Selatan. Karena letaknya yang dipinggir jalan, mungkin mobil akan sulit untuk parkir. Langsung saya pesen ke mas penjualnya dua porsi soto ayam plus satu mangkuk ceker ayam.


Penjualnya sedang meracik soto dengan jurus andalan

This is it... Tak seberapa lama pesanan kami pun datang. Dan semua cacing yang ada di dalam perut kami pun ikut bersorak. Yuk, kita lahap semua makanan ini. Tak lupa baca doa dulu sebelum makan ya. Bismillahirrahmanirrahim...

Soto Ayam Khas Surabaya
Yang membedakan soto ayam ini adalah pada satu bahan yang disebut koya. Bagi yang tidak tahu, koya adalah ramuan rahasia yang bisa membuat rasa soto menjadi lebih gurih. Ga rahasia banget sih, koya ini aslinya berasal dari kerupuk udang yang ditumbuk. 
Satu hal lagi, kalau di Surabaya, makan soto itu dicampur antara nasi dan sotonya. Kalau di Jakarta, kebanyakan soto dan nasi nya di pisah. meskipun begitu, bagi kalian yang terbiasa makan soto dan nasi di pisah, bisa kok pesan ke penjualnya untuk dipisah.


Porsi Kuli Bangunan

Waktu itu kami memesan dua porsi nasi soto. Dengan rincian 1,5 porsi untuk saya. Dan setengah porsi untuk istri saya.  So, buat kalian yang ga terlalu banyak makannya, mending pesen setengah porsi saja. Biar ga mubazir makanannya.
Selain itu, saya juga memesan satu porsi ceker (kaki) ayam. Daging ayam di warung ini memiliki tekstur yang lembut. Sehingga tidak sulit untuk dikunyah. Biar lebih mantap, tambah sedikit jeruk nipis dan juga sambal. Dijamin lidah anda akan bergoyang.


Ceker Ayam
Harga di tempat ini sangat ramah di kantong. 2 porsi nasi soto. 1 porsi cakar ayam. dan 2 gelas teh manis hangat dibanderol dengan harga hanya Rp. 40.000. Jika kamu sangat beruntung, kamu juga akan disuguhi live music performance oleh street musician.


Live music performance by street musician

Selamat menikmati kuliner ini. Terutama bagi perantau yang berasal dari Surabaya. Selain akan menikmati soto yang lezat, kalian juga akan mendapat bonus sedikit obat penawar rindu akan kampung halaman.

Kamis, 05 Februari 2015

Senja Di Hutan Beton

”Dan Dia yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi siapa yang ingin mengambil pelajaran atau bagi yang ingin bersyukur.”(Al-Furqan:62).
Sebelumnya, tak pernah terpikir di benak saya bahwa Jakarta juga memiliki pemandangan senja yang indah. Hingga saya membaca sebuah artikel yang ditulis oleh seorang blogger kece. Di tengah lautan mobil, senja tetap saja memberikan pemandangan yang menarik. Kalau mau mampir, ini alamatnya:bukanrastaman.wordpress.com. Sehingga memberikan inspirasi bagi saya untuk mengabadikan beberapa momen senja di sekitar tempat saya bekerja.

Menikmati Senja
Poto di atas di jepret oleh teman saya. Dan hasilnya malah lebih bagus dari hasil jepretan saya. Hahahaha

Senja Di Hutan Beton



Sore itu, saya dan teman sekantor saya naik ke atap gedung tempat kami bekerja. Kami berniat menanti pergantian siang dan malam di atap gedung ini.
Senja di Lantai 5

Dan penantian kami terbayar tuntas. Kami menjadi saksi, bahwa Jakarta juga punya senja yang indah.

Bersyukur atas keindahan senja yang masih sempat dinikmati
Penikmat Senja

Selamat Menikmati SENJA

Mengatasi Laptop Yang Kemasukan Air

Beberapa hari yang lalu dapat pengalaman yang tak terlupakan. Saat perjalanan pulang ke tempat kos, hujan turun dengan lebatnya. Dan kebetulan waktu itu ga bawa jas hujan. Dan di dalam tas ada sebuah laptop. Bisa berabe nih kalo kena air. Sebetulnya gapapa sih kalo laptopnya rusak. Asal kenangan yang tersimpan dalam laptop tu tidak rusak. Ehhh
Awalnya sih mau berteduh, tapi ga jadi karena sepertinya bakal lama. dan saya takut teringat kenangan di masa lalu bakal terulang kembali. Akhirnya saya putuskan menerobos hujan yang agak lebat kayak bulu keteknya eva Arnaz waktu main film sama warkop DKI. Masalah laptop, saya sudah lindungi tas saya dengan cover bag. Biar air ga masuk ke dalam tas. Lets go...
Setelah sampai di kos, saya lepas baju basah saya dan segera ganti dengan baju yang kering. Hati saya agak berdesir ketika membuka cover bag. Ada sebagian air yang bersikeras masuk ke tas saya meskipun tas saya sudah di cover. Dan hal yang saya takutkan benar-benar terjadi. Laptop saya basah kemasukan air.
Waktu itu saya benar-benar panik. Bagaimana kalau harga kos akan naik akibat harga bbm yang juga ikut naik. Bagaimana kalau keberadaan low cost carrier benar-benar dihapus. Saya belum siap untuk itu semua. Dan yang paling saya khawatirkan waktu itu, bagaimana kalau laptop saya nggak bisa nyala.
Setelah tanya ke beberapa teman yang sering selingkuh. Eh, maksud saya yang tahu soal dunia per-laptop-an. Dan setelah merengek ke eyang gugel. Saya dapatkan solusi jika laptop kemasukan air. Berikut ini tips dari saya apabila ada yang mengalami masalah laptop kemasukan air:
1.Makan, minum dan istirahat secukupnya. Karena kalau sakit, kamu tidak akan bisa memperbaiki laptop kamu.
2.Jangan panik. Karena dunia ga akan berakhir hanya karena laptop kamu kemasukan air. Keep calm guys.
3.Jangan nyalakan laptop, karena ditakutkan akan terjadi arus pendek.
4.Lepas semua batery, usb atau peralatan apapun yang tersambung ke laptop.
5.Usapalah semua air yang terdapat di permukaan laptop yang bisa dijangkau dengan kain yang memiliki daya hisap bagus.
6.Keringkan laptop. Bisa dengan dikipas atau dijemur. Tidak disarankan mengeringkan laptop dengan hair dryer. Karena kemungkinan akan terjadi panas yang berlebihan. Dan jangan coba-coba mengeringkan laptop dengan api. Apalagi dengan api cemburu. Jangan....
Setelah seharian dikipasi, akhirnya laptop aku nyalakan. Alhamdulillah laptop bisa menyala. Akan tetapi layarnya agak aneh. Ada sebagain air yang masih terperngkap di dalam LCD. Tapi tenang saja, hal ini bukanlah masalah besar. Karena berdasarkan pengalaman yang saya alami, air tersebut hilang seiring dengan berjalannya waktu. Itulah mengapa ada yang bilang, “time heals almost everything”.
Jika kamu ingin cepat hilang, kamu bisa buka LCD laptop mu. Lalu kamu bersihkan air yang masih terperangkap di situ.