Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Juni 2016

Brace yourself, Ramadhan is coming

Bagaimana perasaan kamu jika akan dipertemukan dengan seseorang yang sudah lama tidak kamu jumpai? Apalagi orang tersebut sangat spesial buat kamu. Pastinya kamu senang pake banget dong. Mungkin itulah perasaan setiap umat muslim di dunia ini, karena in sya allah sebentar lagi, akan dipertemukan dengan bulan ramadhan.

Bulan ramadhan merupakan bulan yang sangat istimewa. Bulan penuh ampunan. Bulan dimana amal kebaikan dilipat gandakan pahalanya. Sangat sayang jika hanya kita lewati seperti bulan-bulan yang lain.

Ibarat kita akan bertemu dengan orang yang istimewa, kita akan melakukan persiapan sebaik mungkin. Begitupun ketika menyambut bulan ramadhan. Ada baiknya kita juga mempersiapkan segala sesuatunya sebaik mungkin. Seperti membiasakan membaca Al quran, bersedekah, berkata jujur dan juga beberapa hal yang tentunya semakin mendekatkan diri kita kepada Sang Pencipta.

Selamat menunaikan ibadah puasa, Ramadhan 1437 H. Oiya, bagi yang jomblo, tidak perlu berkecil hati. Karena tidak ada syarat siapa yang harus membangunkan kalian sahur. Fokuslah untuk memperbaiki diri. Lebih baik jomblo tapi khatam Al quran. Daripada pacaran tapi tidak tahu nikahnya kapan. #saveJomblo


Kamis, 19 Mei 2016

Pulang Malam

Cerita ini hanya fiksi belaka. Apabila ada kesamaan nama atu tokoh, itu hanya kebetulan semata.

“Akhirnya kelar juga”, gumamku dalam hati. Kulirik jam yang menempel angkuh di dinding, jarumnya yang pendek menunjuk angka 9. Jarumnya yang panjang menunjuk angka 1.

“Sudah makan belum bro?” tanya teman kantorku yang kebetulan belum pulang juga.

“Belum bro, nanti sekalian beli makan pas pulang ke kosan,” jawabku sambil mematikan komputer.

“Kamu sudah makan bro?” aku bertanya balik. Tapi taka ada jawaban.

“Cepet banget tu anak’” gumamku. Lalu aku bergegas menuju lift. Ketika menuju lift, aku melihat kamar mandi menyala, dan mendengar bunyi flushing toilet. Mungkin tadi anak ini terburu-buru kebelet pipis. Jadinya cepet banget.

“Aku tunggu di bawah ya bro,” sapaku ke dalam orang yang ada di toilet.

“Oke bro,” jawabnya.

Setelah itu, aku masuk lift menuju ke lantai dasar.

“Malam Pak Nasrul,” sapaku kepada Pak Nasrul, security yang sedang bertugas.

“Selamat malam Mas. Tumben Mas Adhit pulang malam?” tanya beliau ramah.

“Iya Pak, masih ada yang harus dikerjakan,” jawabku. Lalu aku duduk sambil menunggu Tito turun. Aku menunggu hingga lebih dari 30 menit, tapi Tito tak kunjung tururn.

“Lama bener Tito ini. Ngapain aja dia di kamar mandi,” kataku.

“Mas Adhit nunggu Mas Tito?”

“Iya Pak, tadi dia ke kamar mandi dulu. Lalu saya bilang saya tunggu di bawah,” jawabku.
“Maaf ya Mas Adhit. Seingat saya Mas Tito sudah keluar kantor dari tadi. Dia juga sempat menyapa saya,” ujar Pak Nasrul.

“Ah yang bener Pak. Lha tadi saya sempet ngobrol kok,” sanggahku tak percaya.

“Mas Adhit melihat wajahnya?” tanya Pak Nasrul.

“Ehmmmmm.” Setelah aku ingat-ingat. Aku tak melihat wajahnya. Hanya mendengar suaranya. Saat dia, atau seseorang yang mirip dia, menanyaiku aku sedang sibuk mematikan komputer. Dan saat di kamar mandi, aku jelas tidak bisa melihat wajahnya. Tapi….. Tapi suaranya aku hafal sekali. Bahwa itu adalah suara Tito.

“Hahaha. Mas Adhit dikerjain tuh,” ledek Pak Nasrul. “Saya juga sering kok,” ujar beliau sambil terkekeh.

“Ah masa sih. Sebentar, saya telepon Tito dulu.”

“Halo bro. Sorry malam-malam ganggu. Kamu ada dimana sekarang?” tanyaku.
“Aku sudah di kosan bro. ada apa?” tanyanya di seberang telepon.
“Oh, ga apa-apa. Okelah kalo begitu,” jawabku yang kemudian mematikan telepon.


Lalu, muncul tanda tanya besar di benakku. Jadi, yang dari tadi aku ajak bicara siapa?

Selasa, 15 Desember 2015

Lebih Dari Sekedar Blog Walking


“Assalamu ‘alaikum,” sapa Mas Wahyu. Sesungging senyum menghiasi wajahnya. Saya pasti bakal sulit mengenali wajah mas Wahyu jika tidak sering melihat foto di akun medsos Mas Wahyu. Mas Wahyu yang dulunya masih memiliki postur sangat mahasiswa. Sudah bertranformasi menjadi sesosok Mas Wahyu dengan tambahan daging di pipi dan perut. *ojo nesu Mas.
“Wa ‘alaikum salam warahmatullahi wa barokatuh,” jawab saya lebih panjang.
“Kenalkan Mas, ini istri saya,” ucap saya dalam bahasa jawa.
Setelah senyum salam sapa,

Selasa, 24 November 2015

Martabak Sinar: Martabak Kekinian Di Jakarta Selatan

Bagi kalian pecinta Martabak, Martabak Sinar merupakan tempat yang yang tepat untuk kalian kunjungi. Kedai yang terletak di Jl. Warung Buncit Raya No. 22 ini menjual martabak manis dan martabak asin dengan berbagai varian topping. Ada topping keju, coklat, kacang, pisang dan juga toping yang lainnya.
For you who love martabak so much, Martabak Sinar is the right place for you. This place locate on Jl. Warung Buncit No. 22. They sell Sweet Martabak and Salty Martabak with a lot of topping varian. There are cheese, chocholate, peanut, banana and a lot of kind topping varian.
Its looks like a pizza
Martabak Sinar memiliki tampilan yang lain dari biasanya. Bentuknya yang bulat seperti pizza, dihiasi dengan toping sesuai selera kita. Rasanya pun sangat lembut di mulut. Cocok dipesan saat rame-rame. Karena porsinya tidak akan habis jika hanya untuk berdua saja. Kecuali jika kalian meiliki porsi makan yang berbeda.
Martabak from Martabak Sinar looks like so different with other martabak seller. It’s look like a pizza. It’s also so tasty. Very creamy yummy in your mouth. You can purchase this martabak when have a lot of people arround you. Because, you can not eat it by yourself. It has abig portion for a normal people.
So yummy right?
Martabak Sinar memiliki layanan pesan antar. Akan tetapi ada minimal pemesanannya. Saya belum pernah sih pesan antar. Karena biasanya saya langsung datang ke tempatnya. Agar kalian tidak kecewa, karena saat datang kesana langsung ternyata martabaknya sudah habis. Ada baiknya kalian telepon dulu, lalu mau pesan apa saja. Baru nanti diambil pukul berapa. Ini nih nomer yang bisa dihubungi: 021 9032 1566.
They have delevery service. Term and condition are applied. You can contact this phone number to ask more detail: 021 9032 1566.
Price list
Price List

Selamat mencoba.
Hope you enjoy it.


 

Note:
Tempatnya terletak di samping Pom Bensin Lama Buncit (The location is near the Old Buncit Gasoline Station).
Jangan malu untuk memberikan komentar untuk memperbaiki bahasa inggris saya yang kacau. (Yang ini kayaknya ga peru ditranslate in. Hehehehe)

Senin, 07 September 2015

Menikmati Matahari Terbit Di Bantaran Kali Ciliwung


Ada beberapa cara menikmata snack Beng-Beng. Bisa dimakan secara langsung. Bisa juga didinginkan dulu. Baru dimakan. Begitupun juga dengan menikmati matahari terbit. Bisa dengan pergi ke Semeru. Atau mungkin dengan berdiri di depan sungai Ciliwung. Tapi saya harap, perbedaan menikmati momen matahari terbit tak menjadikan kita, sesama orang yang mengaku penikmat matahari terbit, memperdebatkan perbedaan ini. Seperti pada iklan Beng-Beng, sepasang kekasih harus berpisah karena perbedaan cara memakan beng-beng. Saya tak mau seperti itu.
Mataari dari balik pohon kering
Bagi yang bosan untuk melihat matahari terbit dari gunung, mungkin bisa mencoba menikmati matahri terbit dari bantaran sungai Ciliwung. 
Matahari masih malu
Ciliwung yang akhir-akhir ini terkenal karena berita penggusuran, ternyata memilik spot untuk melihat matahari terbit.
Matahari di balik pohon kering
Tempatnya juga mudah dijangkau. Kemarin saya mengambil lokasi di Jalan Kemuning. Di daerah sekitar Pasar Minggu.
Mencubit Matahari
Karena tempatnya yang dekat dengan rumah penduduk, selepas menikmati matahari terbit, bisa dilanjutkan dengan mengisi perut atau berbelanja sayur mayur.
Yang katanya ga mau difoto, malah minta lagi. Hwehehehe
Itulah pengalaman saya menikmati matahari terbit di bantaran kali Ciliwung. Barangkali ada yang punya pengalaman yang lebih menarik tentang menikmati matahari terbit, bisa di share di kolom komentar :)

Jumat, 04 September 2015

Saya dan Rambut Gondrong

Sore itu jalanan padat seperti biasanya. Beberapa karyawan, seperti saya, mulai berhamburan meninggalkan kantor masing-masing. Bersiap menuju ke rumah, kontrakan ataupun tempat kos, setelah seharian lelah main internet dan sesekali mainan handphone bekerja.

Sebelum pulang, saya putuskan untuk memotong rambut saya terlebih dahulu. Karena saya sekarang jadi risih dengan rambut yang agak panjang. Rasanya ada yang nyocrok-nyocrok gimana gitu. Padahal dulu saya sangat senang memanjangkan rambut saya.

Setelah sampai ke tempat potong rambut tujuan saya, saya memarkirkan sepeda motor saya. Lalu saya duduk manis menunggu sampai giliran saya tiba.

Ketika menunggu, seorang bapak berbadan tegap dengan rambut panjang sebahu duduk di sebelah saya. Dilihat dari cengengas-cengenges antara tukang cukur dan si bapak berbadan tegap, sepertinya mereka berdua sudah akrab.

“Opo wis mantep dicukur rambute?” tanya si tukang cukur.

“Iki nggowo topi nggo nutupi lak wis mari cukur,” sahut si bapak yang baru datang.

“Wis sholat istikhoroh durung?” goda si tukang cukur.

“Lambemu,” jawab si bapak sambil tersenyum.

“Ga eman pak dicukur rambute? Wis dowo tenan ngunu,” saya juga ikut nimbrung. Si tukang cukur ikut tertawa geli. Si bapak tersenyum.

“Gawe nglamar kerjo Mas,” jawabnya melas.

“Mbiyen aku yo tau gondrong. Eman banget pas arep dicukur,” sambungku.

Karena giliranku sudah tiba, aku meninggalkan bapak berambut gondrong. Aku tahu bagaimana perasaannya. Karena aku juga pernah mengalaminya.

“Dirapikne pinggire ae mas,” kataku.

Aku duduk di kursi kayu yang sudah disediakan. Si tukang cukur dengan cekatan merapikan rambutku. Sesekali dia mengobrol dengan si bapak gondrong. Aku tak begitu mendengarkan. Lamunanku terlempar jauh ketika aku berambut panjang.

Dulu ketika masih kuliah, saya juga pernah memanjangkan rambut saya. Tidak sampai panjang sekali seperti para personil Grup Band Boomerang. Tapi cukup panjang untuk ukuran anak kuliahan.

Berikut ini koleksi beberapa foto saya saat masih gondrong.
Dari depan
Dari samping. Diikat pakai karet bekas bungkus nasi
Mungkin saya memanjangkan rambut karena terinfluence oleh beberapa teman saya. Waktu itu, Kecenk dan Zulham juga memanjangkan rambutnya. Berikut ini foto kami saat liburan bersama. Ada juga bro Felix dan cak Rudy.

Kecenk memakai kaos abu-abu dan berdiri paling kiri. Zulham yang bercelana merah. Saya yang berkaos merah.
Karena ada beberapa dosen yang cukup perhatian, akhirnya saya harus memotong rambut saya. Saya sempat menolak untuk memotong rambut saya. Akan tetapi, ancaman nilai yang akan dikurangi apabila memanjangkan rambut, membuat saya mengalah. Tapi tetap saja nilai saya dikurangi meskipun saya sudah memotong rambut saya.
Setelah itu, saya memanjangkan rambut saya lagi hingga kira-kira semester 9. Bahkan, ketika sidang skripsi yang pertama (di tempat saya kuliah, sidang skripsi dilakukan 3 kali) saya masih gondrong. Berikut ini foto saya saat akan menjalani sidang skripsi.
Sebelum sidang skripsi.
Itu dulu. Sekarang saya lebih suka tampil dengan rambut pendek. Selain lebih sejuk, juga terlihat lebih rapi.
Saya paling kiri, dengan jenggot kayak kambing :)

"Sudah Mas," kata si tukang cukur.

Akhirnya saya harus kembali ke masa kini. Setelah membayar, lalu saya pamit dan tak lupa senyum ke bapak yang gondrong tadi.
Semoga niat bapak mencukur rambut untuk memperoleh pekerjaan, segera tercapai. Amin.