Jumat, 24 April 2015

PINDAH KOST



Sebagai anak perantauan, menyewa kamar kost adalah sebuah alternatif yang bisa dilakukan apabila belum mampu membeli tempat tinggal.

Anggrek XII No 6C
Sebagai perantau di Jakarta, saya sudah mengalami beberapa kali yang namanya pindah kost. Tempat kost yang pertama adalah di daerah Karbela. Tempat ini lebih tepat disebut sebagai rumah petak. Dimana di dalamnya terdapat 2 kamar tidur, satu ruang tamu dan 1 kamar mandi. Tempat itu ditinggali oleh saya dan ketiga teman saya yang lain: Juned, Zulham dan Deny. Waktu itu status saya bukan sebagai penghuni kost, lebih tepatnya numpang nge kost di tempat mereka. Saya numpang di situ sekitar empat bulan. Mulai Maret 2014. Dan Skitar bulan Agustus, kami memutuskan untuk berpisah. Karena ketidaksesuaian paham. Waktu itu Juned memutuskan untuk menikah, paham ini sangat bertentangan dengan saya, Zulham dan Deny. Karena kami belum menikah. Selain itu, Deny juga menganut paham memakai celana dalam itu bukanlah suatu keharusan. Bagi saya dan Zulham, memakai celana dalam adalah suatu keharusan. Agar tidak terjadi peselisihan yang lebih besar, kami memutuskan untuk berpisah. Juned menyewa rumah bersama istrinya. Deny lebih memilih kost di sekitar Karbela yang memang lebih dekat dengan tempat kerjanya. Sedangkan saya dan Zulham memutuskan pindah Ke Pasar Minggu yang juga lebih dekat dengan tempat kerja kami.

Jalan Kemuning Dalam 4, RT 10 RW 6. Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Setelah dari Karbela, saya pindah ke kontrakan di daerah Pasar Minggu. Saya pindah ke sini karena harga kontrakan di sini lebih murah. Rumahnya juga lebih besar. Dan lebih dekat dengan tempat kerja. Kontrakan ini saya tiggali bersama tiga orang teman saya yang lain: Zulham, Rengga dan Ibnu.
Karena kontrakan ini lebih luas, banyak teman yang silih berganti datang tiap akhir pekan. Malah ada yang hampir setiap minggunya menghabiskan waktu di kontrakan kami. Diantaranya Bocin, Griwo dan Ivan. Kadang Dyah dan Babun yang kosnya tidak begitu jauh mampir ke kontrakan kami.
Kebersamaan kami harus berakhir di penghujung Desember 2014. Saya pindah kost di daerah Duren Tiga.
Meskipun kami sudah tidak bersama lagi, kami masih sering bermain bersama ketika akhir pekan. Sampai sekarang, kontrakan itu masih mereka tempati. Hanya saja berubah komposisi penghuninya. Ibnu sudah tidak tingggal di sana karena dipindahtugaskan ke daerah Jawa Tengah. Dan Ivan yang melihat peluang untuk bisa bergabung di kontrakan ini secepat kilat menghubungi Zulham. Seperti gayung bersambut, Zulham akhirnya menerima Ivan sebagai penghuni baru.

DurenTiga. Jalan MHT Mesjid
Saya ga tahu apakah alamatnya benar atau tidak. Tapi kalau di google maps, tertulis seperti. Di sini saya tinggal bersama istri saya. Kurang lebih sekitar empat bulan, terhitung mulai akhir Desember hingga akhir April 2015.
Jarak kantor saya dengan tempat kost ini sangat dekat. Jika saya naik sepeda motor, tidak sampai sepenghisapan rokok, saya sudah bisa sampai di kantor. Karena saking dekatnya, terkadang saya bisa makan siang bersama istri.
Tetangga kos saya merupakan orang-orang yang ramah. Ada mas Habib dan istrinya. Mas Habib ini adalah senior saya ketika kuliah. Ada juga mas Resandi. Dia juga senior saya, satu angkatan dengan Mas Habib. Ada juga Sam, dia teman satu laboraturium. Tapi kami seumuran. Ada juga Mas Faisal yang tinggal di lantai dua. Dia juga seniorku semasa kuliah. Karena sudah sering bertemu, jadi kami sudah akrab.
Istri saya juga memiliki beberapa teman baru ketika kami tinggal di situ. Diantaranya adalah Mbak lulu (istri mas Habib), Mpok Leha (penjaga tempat kos), Mak Cung (penjaga tempat kos), Bu Ayu (penjual sayur di depan kos), Mbak Endang dan Mpok Lili (penjual gado-gado dan rujak buah).
Karena keakraban kami, beberapa tetangga juga sepertinya berat melepas kepergian kami. kalimat seperti berikut ini terucap dari mereka.
“Jangan lupa sama yang di sini ya,” Mak Cung.
“Sering main-mainlah kesini,” lupa siapa yang bilang.
“Sido pindah ta? Sesuk ae lho, wis bengi iki,” Mas Habib.
Terima kasih untuk semuanya. Maaf ya kalo ada salah kata dan perbuatan. Dan terima kasih sudah dibantuin angkat-angkat barang. 

Jalan Kemuning 4. RT 12 RW 6 no 32A. Pejaten Timur, Pasar minggu, Jakarta Selatan
Ini adalah alamat baru kontrakan saya. Saya dan istri mulai tinggal di sini terhitung sejak Rabu tanggal 22 April 2015.
Kontrakannya lebih luas. Lebih sejuk karena masih terdapat pohon-pohon di sekitar kontrakan kami. para tetangga baru juga sangat ramah. Malah ada seorang tetanga yang rumahnya daerah Waru, Sidoarjo, Jawa Timur. Which ic satu daerah dengan istri saya.
Semoga kami betah tinggal di sini. Karena akan repot kalau mau pindahan lagi.
Bagi kalian yang mau menikmati suasana riverside, bisa bertamu ke tempat kami.

Selasa, 21 April 2015

OCTOPUS FOUNDATION Part 1



Octopus Foundation adalah sebuah badan amal yang dibentuk oleh teman-teman seangkatan saya beberapa tahun yang lalu. Tujuan awalnya adalah untuk membantu teman kita sendiri yang pada waktu itu belum lulus kuliah dan membutuhkan bantuan financial untuk kelangsungan perkuliahannya.
Beberapa bulan terakhir, Octopus Foundation seperti mati suri. Tak ada kegiatan penyaluran dana. Laporan keuangan juga terbengkalai. Tidak semua anggota memberikan donasi seperti komitmen awal.
Saya, sebagai salah satu pengurus mohon maaf kepada teman-teman. Karena kesibukan saya, saya jadi melupakan amanat yang dulu sudah diberikan kepada saya. Hiks...
Pagi kemarin, saya dan pengurus yang lain bertekad untuk membuat Octopus Foundation lebih bagus lagi kedepannya. Lebih transparan dalam laporan keuangan. Dan tiap pengurus menjadi lebih profesional.
Untuk mencapai hal itu, dilakukan perombakan besar-besaran di bagian struktur organisasi. Dilakukan musyawarah bersama untuk memilih orang-orang yang akan didaulat menjadi pengurus. Dan memperbaharui visi misi dari organisasi ini.
Dan sampai postingan ini diterbitkan, sepertinya masih banyak yang harus dibahas. Teuteup semangat rek.
Dan semoga, kegiatan ini tidak hangat-hangat tai ayam.
(Tolong tulis Amin di kolom komentar)

Selasa, 07 April 2015

Pernikahan Andri dan Uni Part 2



Ini adalah postingan Pernikahan Andri dan Uni Part 2. Kalau pingin baca Pernikahan Andri dan Uni Part 1 bisa diklik di sini.

Minggu, 22 Maret 2015

Seperti tak mau kalah dengan Raffi Ahmad, Keluarga Andri juga mengadakan acara ngunduh mantu. Bedanya acara ngunduh mantu ini tidak disiarkan di televisi. Karena Andri dan keluarga cukup bijak untuk tidak mengganggu frekuensi publik. Terima kasih Om Andri dan keluarga.

Acara ngunduh mantu ini berlangsung meriah dan lancar. Tetapi semuanya berubah ketika negara api menyerang. Tidak ding, lebih tepatnya setelah saya dan teman-teman Octopus (teman seangkatan Andri sewaktu kuliah) datang. Karena  The Octs (sebutan anak-anak Octopus) terkenal trengginas.

Pada saat awal kedatangannya, semua terlihat biasa saja. Mereka datang mengisi buku tamu. Dan menitipkan kado untuk kedua mempelai.

Proses Akad nikah, SAAAH!!! Mengisi buku tamu (dari kiri ke kanan: Zulham, Angga, Bagus)
Dan para penerima tamu akan memberikan sebuah kupon untuk ditukar dengan souvenir.

Ibnu menerima kupon untuk ditukar dengan souvenir
Oh iya,cuma mau ngasih tahu. Istri saya didapuk menjadi penerima tamu.

Istri saya yang paling sadar kamera. Hahahaha

Setelah memasuki gedung, the Octs langsung menyerbu stand yang menyediakan makanan. Mulai dari kebab, tahu campur dan beberapa olahan ayam tak luput dari serbuan mulut-mulut rakus.

Rengga asik makan


Dari kiri-kanan: Ibnu, Idha, Putri, Faishol, Pacar nya Zaki, Zaki

Acara ngunduh mantu ini terasa spesial karena dihadiri artis ibu kota dan juga mantan presiden RI.


Bondan yang beruntung bisa berfoto dengan Nicki Tirta (Jefri)


 
Zulham sangat sumringah bisa satu frame dengan SBY (Bondan Janu)


Ah, mereka sangat beruntung


 
Angga dan Zulham bersama Prince of Keputih (Firin)



Kayaknya sudah disebutin semua. Oh iya, yang merah itu Arief (jomblo tapi pinter ngaji. Minat bisa PM gan)


 
Inti datang ke pesta pernikahan adalah: makan dan juga foto. Kiri-kanan: Idha, Tania, Putri, Mas Fathan (suaminya Tania), Rengga




Seperti yang saya bilang di postingan sebelumnya, tidak afdhol kalau datang ke sebuah pesta pernikahan jika belum berfoto bersama dengan kedua mempelai.


Keep calm, and take our picture

Tadi foto pertama Gery belum datang. Setelah Gery datang ya mau ga mau harus foto lagi.

Pak potograper, satu lagiiiiii

Sepertinya sudah agak lama kami menginvasi kursi pelaminan. Karena tukang fotonya sudah mulai enggan memotret kami. Ya ga masalah, kita selfie pakai hape sendiri.

Kalo tukang potonya ga mau motret, ya kita selfie lah. Gitu aja kok repot



Selfie lagi gapapa kan?

Makin lama suasana makin ricuh. Karena sepertinya Andri dan Uni enggan kami tinggal masing-masing dari kami masih belum puas berfoto dengan kedua pengantin. Berikut ini beberapa kekisruhan yang sempat diabadikan oleh kamera.


No caption needed


Andri dan Uni shock pelaminannya dikudeta


Mereka seneng kok. Hahaha

Karena kami terlalu lama menginvasi pelaminan, akhirnya terjadi antrean panjang bagi para tamu yang ingin berfoto bersama kedua mempelai. Akhirnya kami harus merelakan untuk turun dari tempat itu. Agar tamu yang lain bisa berfoto dengan kedua mempelai.


Note:
Selamat kepada Andri dan Uni. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah. Jika ada amplop kosong terus ga ada tulisannya, tolong jangan langsung menuduh kami pelakunya. Hahaha